Kesedihan Mahija dengan Penyebab Penumpang KRDI BIAS
Pada 11 Januari 2026, saya menaiki KRDI BIAS seharian dari 571A sampai 575A dengan KRDI yang diganti. Saat 571B, rangkaian memakai K3 3 11 05-08 Depo Solo Balapan (Slo). Namun, rangkaian itu mengalami masalah teknis saat dihidupkan dari Madiun dan mesin masih mengalami lemah tenaga dengan indikasi kegagalan kompresi. Dengan itu, rangkaian itu ditukar K3 3 09 17-20 Slo pada perjalanan 572B di Slo.
Rangkaian K3 3 09 17-20 melanjutkan perjalanan K3 3 11 05-08. Saya duduk di K3 3 09 20. Di situ, saya telah meminta izin untuk duduk berhadapan dengan mbak-mbak muda kurus dan memakai masker. Sepanjang perjalanan, suasana cukup baik dan performa K3 3 09 17-20 sudah baik setelah perbaikan transmisi K3 3 09 20. Sebagai calon pengamat mesin KRDI, saya pasti merekam mesin KRDI, termasuk mesin K3 3 09 20 dalam 572B ini. Bahkan, saya sangat mengharapkan untuk merekam mesin KRDI dengan mbak-mbak tanpa izin secara aman. Meskipun begitu, saya tetap merasakan tatapan sinis dari sedikit penumpang yang memakai masker secara perlahan setelah melihatku merekam mesin K3 3 09 20 dengan arah ponsel Samsung A53 ke jendela. Bahkan, hal serupa terjadi saat tas koper penumpang mbak-mbak dari Ngawi yang mukanya sudah diberi blusher diletakkan di samping mbak-mbak depanku yang memakai masker oleh kondektur, Pak Arisandy. Setelah itu, mbak dari Ngawi ini duduk dan sempat melihat ponselnya.
Rangkaian 572B telah diberangkatkan dari Ngawi. Kemudian, saya tetap melanjutkan rekaman. Ketika ponselku mengarah ke jendela untuk merekam mesin KRDI K3 3 09 20, mbak-mbak dari Ngawi ini langsung membuka tas untuk memakai masker. Posisi mbaknya ini sedang memegang ponsel. Selain itu, mbaknya ini juga mengecas ponsel dengan adaptor. Ini menyimpulkan bahwa mbaknya ini juga takut dengan kamera, terutama dengan pakaian celana cutbrai yang ketat di paha dan terlihat mengkilap kembali yang dipakai sebagai simbol modis dari wanita muda sampai ibu-ibu muda di Yogya Raya, Solo Raya, Mataraman Kulon, dan Mataraman Wetan. Dari ini, saya sadar terhadap kekhawatiran orang-orang terhadap privasi di situ sangat tinggi untuk ke sekian kalinya setelah mengalami kejadian serupa.
Momen tidak enak muncul pada perjalanan 573B. Kejadian ini menimpa petugas Satpam P3K stasiun. Bapak itu menaiki KRDI 573B dari Sragen sampai Solo Balapan. Saat rangkaian berangkat dari Palur, saya menyuruh Polsuska yang dikenal duduk. Pak Polsuska ini langsung menolong Satpam yang terjepit pintu di K3 3 09 17 ketika ingin duduk. Pada saat itu, saya terkejut karena Pak Satpam terjepit secara tiba-tiba. Kejadian ini membuat panik beberapa penumpang hingga teman Polsuska lainnya menghubungi Teknisi Kereta Api (TKA) dari K3 3 09 20. Beberapa sudah mendorong pintunya, tetapi pintu tidak bisa terbuka.
Penumpang merekam Pak Satpam yang terjepit pintu K3 3 09 17. Pada saat itu, TKA juga ikut menolongnya hingga mencari tuas pembuka pintu manual. Akan tetapi, tuas itu sudah dihilangkan setelah KRDI 3 09 17-20 dimodifikasi dengan penambahan genset. Setelah itu, petugas TKA langsung menuju genset dan kabin masinis untuk membuka pintu penumpang di kiri. Ketika pintu terbuka, Pak Satpam langsung menuju genset dan pintu genset agar penumpang tidak melihat Pak Satpam kesakitan.
Polsuska mengingatkan penumpang yang merekam Satpam saat terjepit pintu dengan posisi kereta berjalan pelan dari Palur untuk tidak dibagikan ke sosial media/dilaporkan. Dari situ, saya merasa pesimis jika penumpang tidak akan membagikan ke sosial media. Privasi mereka ingin dilindungi, tetapi mereka senang membuat ulah dengan membuat viral hal-hal yang kasihan/biasa.
Sepanjang perjalanan 571B sampai 574A, saya sudah senang karena saya sudah mendapat rekaman mesin KRDI dengan mbak-mbak. Akan tetapi, keburukan menimpaku pada 575A.
Mbak-mbak yang direkam oleh aku ini turun di Palur. Setelah mereka turun, saya mengharapkan perilakuku dapat diterima karena suasananya sangat panas pada saat Polsuska mendatangi K3 3 09 17. Mereka sudah dihasut dan diperingatkan oleh orang tua itu sehingga saya yakin kepercayaan mereka turun terhadap orang sepertiku.
Aku masih tidak terima saat dilapor oleh Polsuska. Mental mereka sudah terasa seperti abdi negara sebagai pelapor. Orang yang berlagak tinggi sebagai pahlawan kesiangan tidak pantas membuat ribut suasana dan membela orang lain.
Komentar
Posting Komentar