Pandangan Buruk oleh Penumpang BIAS di Akhir Maret 2025

    Saya memiliki rencana untuk menaiki KRDI 571 sampai 575 BIAS pada 30 Maret 2025. Rangkaian yang dipakai adalah K3 3 09 17-20 Depo Solo Balapan (Slo). Tujuanku menaiki KRDI BIAS sudah pasti pada pengamatan terhadap mesin KRDI dan penumpang. Pada saat itu, saya duduk di K3 3 09 17 dan momennya terjadi pada hari akhir puasa Ramadhan 1446 H/2025 M. Di tahun 2025, harapanku menaiki KRDI BIAS di akhir puasa ini difokuskan pada rekaman mesin KRDI dan mengharapkan penumpang mbak-mbak yang menarik duduk di kursi berhadapan di depan. Meskipun begitu, kondisi penumpang mbak-mbak di 572 ke arah Madiun tidak banyak dengan posisiku yang duduk di kursi 6A. Posisi tempat duduk di depan, kursi 5A, sudah diisi dengan ibu-ibu.

    Ponsel Samsung A53 Mahija diarahkan ke jendela untuk merekam mesin K3 3 09 17 dan menghindari wajah ibu-ibu. Sepanjang perjalanan, saya merasa aman dan tidak terasa hawa negatif dari penumpang lain. Kemudian, ibu di depanku turun di Walikukun. Setelah itu, saya merasa pasrah saat tidak melihat keberadaan mbak-mbak di BIAS yang tidak banyak/tidak menghampiriku.

    Perjalanan tetap dilanjut pada 573. Pada saat itu, saya meletakkan tas di kursi di kursi 6C dan saya mengelilingi rangkaian terlebih dahulu. Di samping itu, saya juga ikut melakukan pembicaraan dengan Teknisi Kereta Api (TKA). Saat mendekati jam keberangkatan, saya mendekat ke luar K3 3 09 17. Kemudian, saya melihat mbak-mbak dengan penampilan modis dan kemeja putih mahal naik ke K3 3 09 17. Penampilan modis mbaknya ini terlihat dengan muka berwarna merah karena dugaan pemberian blusher dan lipstik agar terlihat cantik dan menggoda. Di samping itu, mbaknya mengenakan celana ketat di paha dan melebar di betis. Mbaknya ini membawa tas belanja dan tas punggung dan melihat kursi kosong di sebelah keluarga yang telah duduk di kursi 5A-5B dan 6A-6B. Lalu, mbaknya menanyakan perihal tas orang yang sudah diletakkan di kursi 6C kepada keluarga itu. Setelah mengetahui keberadaan orang yang memiliki tas itu, mbaknya langsung duduk meletakkan barang di sekitar kursi 5C. Dengan waktu keberangkatan 573 yang tinggal 5 menit, saya langsung menuju kursiku di 6C. Di situ, saya meminta izin kepada mbaknya untuk duduk.

Mahija: "Mbak, aku izin duduk di sini." (kursi 6C)
Mbak-mbak: "Oh, iya, nggak papa, mas."

    Mahija duduk di kursi 6C yang berhadapan dengan kursi 5C. Saat hendak duduk, paha Mahija dengan celana coklat pramuka berbahan high twist yang licin terasa menyentuh paha mbaknya dengan bahan celana scuba dari celananya yang terlihat licin dan ketat di paha. Kemudian, Mahija menunduk dan meminta maaf dengan menjulurkan tangan dengan angka lima/setop. Setelah itu, mbaknya tersenyum sedikit dan melihat ponsel.

    Mahija mengarahkan kamera ke jendela tempat duduk kursi 5D dengan ponsel Samsung A53 saat 573 berangkat dari Madiun. Untuk memuaskan hasratku, lensa kamera disetel ke lebar (wide) agar mbaknya dapat terlihat. Pada saat itu, mbaknya melihat kameraku yang mengarah ke depan. Muka mbaknya memang sadar dengan kameraku, tetapi mbaknya tidak merespons atau membicarakan soal aktivitasku.

    Rekaman dengan model lensa lebar dilakukan dari Madiun sampai Magetan. Sepanjang perjalanan itu, saya sempat melihat model celana mbak yang berhadapan di kursi 5C yang ketat ini dengan paha yang tampak. Celana itu dianggap model cutbrai karena modelnya sudah jelas ketat di paha dan memanjang ke bawah. Variannya pun juga banyak. Kemudian, celana yang dipakai mbaknya ini termasuk model celana yang mengundang syahwat untuk pria tertentu. Saya mungkin terlena dengan model celana itu karena saya sudah menganggap model celana itu sudah dipakai oleh beberapa mbak-mbak modis. Jika melihat Yogya Raya, Solo Raya, Mataraman Kulon, dan Mataraman Wetan sekarang, celana model itu termasuk membuat mbak-mbak sombong, tertutup, dan cenderung menjauh dari pria. Bahkan, mbak-mbak seperti itu lebih suka mendekati/duduk dengan sesama wanita/wanita tua di KRDI BIAS dari beberapa pengamatanku sekarang.

    Keamanan sepanjang perjalanan dengan merekam mbak-mbak di kursi berhadapan depan, kursi 5C, masih terasa sampai Stasiun Sragen. Saat tiba di situ, mbaknya merangkul tas dan barangnya dan mengatakan ini kepadaku.

Mbak: "Duluan ya, mas."
Mahija: "Iya, mbak." (sambil dada)

    Pintu K3 3 09 17 akan dibuka saat 573 tiba di Sragen. Saya mendengar percakapan tidak enak dari keluarga di sampingku. Pada saat itu, keluarga yang duduk di kursi 5A-5B dan 6A-6B mengatakan ini kepada mbaknya, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu.

Ibu-ibu: "Lapor aja, mbak!"
Mbak: "Nggak!"

    Keberuntungan jatuh padaku. Namun, kejadian ini menjadi kekhawatiran terhadapku. Mbaknya direkam oleh aku, tetapi penumpang keluarga di blok sebelah merasa risi. Padahal, mereka tidak merasa memiliki hubungan denganku, tetapi mereka ingin sekali membela orang yang direkam. Hal ini memiliki potensi penumpang serupa ke depannya dengan posisi iri dan sinis dari penumpang lain di BIAS/kereta lainnya di Yogya Raya, Solo Raya, Mataraman Kulon, dan Mataraman Wetan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesedihan Mahija dengan Penyebab Penumpang KRDI BIAS

Perasaan di Masa Pandemi Covid-19 Bagian Pertama