Pandangan Buruk oleh Penumpang BIAS di Akhir Agustus 2025
Saya menaiki KRDI BIAS sejak 571B dari Kadipiro sampai Soemarmo pada 30 Agustus 2025 dengan K3 3 09 17-20 Depo Solo Balapan (Slo). Setelah perjalanan 571B sampai Soemarmo, saya melanjutkan perjalanan 572B sampai Caruban. Perjalanan ke Caruban dengan BIAS ini menjadi percobaan awal untukku setelah perpanjangan rute KA BIAS ke Caruban. Setelah itu, saya tetap melanjutkan perjalanan sampai selesai di 575A agar puas dengan mesin KRDI.
Pengamatan terhadap mesin dan penumpang tetap menjadi perhatianku untuk perjalanan pertama KA BIAS ke Caruban. Setelah 571B tiba di Soemarmo, aku keluar dan masuk ke rangkaian kembali setelah pemeriksaan tiket. Di saat itu, saya mengincar tempat duduk di K3 3 09 17 dengan kursi 6D. Posisi 09 17 ini menjadi incaranku karena aku suka duduk di tempat genset yang panas dan mesinnya diyakini candu pada ruangan yang telah dibagi dengan genset karena suara mesin pasti lebih terkumpul di area ruang penumpang. Sementara itu, suara gensetnya tidak terdengar sampai ke kabin penumpang di K3 3 09 17 karena dinding pembatasnya sudah tebal dan sudah pasti memantulkan suara genset.
Kursi depan yang berhadapan denganku, 5C dan 5D, masih kosong saat KRDI 572B tiba di Solo Balapan (Slo). Sementara itu, seorang ibu-ibu dan anaknya merasa susah untuk mencari tempat duduk dengan posisi di K3 3 09 17. Setelah melihat kursi 5D yang berhadapan dengan arahku, ibu dan anaknya terpaksa dengan meminta izin duduk di depan kursi yang berhadapan denganku dan posisiku yang sedang mengarahkan ponsel Samsung A53 ke arah jendela untuk merekam mesin dan suasana. Posisi kursi 6C dan 6D ini memiliki posisi yang tidak sejajar dengan kursi 5C dan 5D sehingga posisi kamera ponsel dari arah kursi 6D pasti mengenai penumpang depan karena arah tempat duduk 5C-5D mepet ke tembok dan kursi 6C-6D tidak mepet jendela, tetapi mepet dinding pelapis pintu otomatis yang dindingnya lebih tebal dan lebar daripada dinding jendela penumpang.
Rangkaian 572B telah tiba di Sragen. Saat tiba, beberapa penumpang telah turun. Setelah itu, ibu dan anak di depan kursiku, 5D, pindah ke kursi lain. Saya merasa lega dengan kondisinya yang sudah pindah karena saya bisa merekam ke arah depan tanpa panik. Akan tetapi, kekhawatiran terhadap ibunya tentu menjadi perhatianku karena aku yakin ibu dengan umur 25 sampai 30 ke atas ini pasti merasa tidak nyaman dari kamera dengan posisinya yang pindah tempat duduk.
Saya melanjutkan perjalanan dengan 573B setelah 572B tiba di Caruban. Pada kali ini, saya duduk di kursi 5D agar tidak pusing dengan arah ke Slo dan menghindari potensi ketidaknyamanan dari penumpang lain saat melihat kamera. Saat saya memegang kamera dengan posisi merekam mesin K3 3 09 17 di petak Madiun sampai Magetan, seorang mbak-mbak dengan masker ingin duduk di depanku karena semua kursi di K3 3 09 17-20 sudah penuh. Di situ, mbaknya tidak duduk di 6D, tetapi di kursi 6C, dan mbaknya tidak peduli dengan posisiku yang merekam mesin KRDI.
Rangkaian 573B telah tiba di Magetan. Saat 573B hampir berhenti di Magetan, mbak-mbak yang duduk kursi 6C dari madiun sebelumnya sempat memberikan kode ke orang luar. Saat itu, pacar/pasangannya duduk. Ketika 573B berangkat dari Magetan, aku tetap merekam ke jendela saja karena saya sudah melihat aura tidak enak dari mas/pacarnya yang tidak ingin direkam.
Saya sempat mengarahkan kamera ke arah depan dengan keberadaan Jalan Tol Solo—Ngawi di petak Kedunggalar sampai Walikukun. Pada saat itu, mas-mas dari Magetan di depanku, kursi 6D, membuka masker dengan raut wajah kesal dan tangan dikepal. Tangannya ini terasa sekali ingin menonjokku. Akan tetapi, saya yakin orangnya tidak akan berani untuk menonjokku karena wajahku bukanlah wajah pengecut dan punya potensi sebagai keamanan.
Rangkaian 573B menurunkan kecepatannya di petak Kebonromo sampai Sragen. Di situ, saya mengarahkan ponsel sesaat kembali untuk menyoroti semboyan 2A (tanda batas kecepatan KA harus berjalan 40 Km/jam. Namun, mas-mas dari pasangan suami itu mengatakan begini.
Mas-mas Magetan: "Ngapain si rekam-rekam depan. Rekam sini aja (jendela), lho."
Mahija: "Ini, lho. Kecepatannya turun."
Saya mengarahkan kamera ke jendela. Namun, saya tetap tidak takut dengan mengarahkan kemera ke depan setelah takik RPM mesin K3 3 09 17 terasa dipindah ke takik 2 hingga tiga setelah masinis melihat semboyan 2H (taspat habis) dengan selepas melewati area perbaikan rel di petak Kebonromo sampai Sragen. Pada saat itu, respons penumpang di kursi 6B, yakni ibu-ibu muda cantik bersuami ternyata tidak direspons dengan baik. Ibu-ibu muda cantik itu menutup wajahnya meskipun suami yang duduk di sampingku, 5C, tidak masalah. Bahkan, pacarnya (mbaknya) tidak peduli dengan aktivitasku.
Saya tidak merekam kembali setelah KA 573B berangkat dari Sragen sampai Solo Balapan. Kemudian, saya masih melihat kepalan tangan mas di depanku yang seakan ingin memukulku. Selain itu, penampilannya terasa seperti tentara atau orang tinggi yang ingin menjatuhkanku. Akan tetapi, saya tetap tidak peduli dan berharap pasangan di depan ini pindah. Setelah 573B tiba di Solo Jebres, beberapa penumpang turun, tetapi tidak sampai membuat kosong. Di situ, kedua pasangan di depanku hampir ingin pindah, tetapi tidak jadi karena kursi yang diincar ternyata sudah diduduki oleh orang lain. Selama perjalanan dari Solo Jebres sampai Solo Balapan, saya murung dan menundukan kepala karena saya tidak ingin melihat pasangan di depanku kembali hingga pasangan di depanku turun di Solo Balapan.
Perjalanan 574A aman. Kondisi penumpang tidak sampai sebelumnya pada perjalanan 572B dan 573B. Akan tetapi, rasa penasaran dan rasa kesal tetap masih hidup dalam pikiranku.
Rangkaian KRDI 575A sudah sampai Magetan dan mengangkut penumpang. Di pengamatanku, saya melihat satu mbak-mbak yang mengundang perhatian dengan posisi duduk di K3 3 09 20, kursi 8D, yang searah laju kereta. Saat awal berangkat Magetan, mbak-mbak ini tampak santai. Akan tetapi, tindakan mbaknya ini sudah mengalami perubahan setelah melihatku dan kameraku dari kursi 5A-5B yang berlawanan kereta dengan laju kereta di Ngawi. Dengan arah itu, penumpang yang searah laju kereta sudah pasti masuk ke kamera, termasuk kursi nomor 6A-6B dan 8A—8D. Di saat itu, mbaknya sempat sadar dengan kamera dan tidak begitu mempermasalahkan.
Aku merekam suara knalpot mesin K3 3 09 20 dari kursi 5A-5B setelah KRDI 575A hendak berangkat dari Ngawi. Pada perjalanan Ngawi—Walikukun, mbaknya merasakan ketidaknyamanan dengan posisi kameraku yang mengarah lurus ke depan. Dari tampangnya itu, ia mengharapkan dengan petugas yang bisa menghentinkanku. Akan tetapi, Polsuska yang berjalan tidak peduli karena sudah tahu tentang keberadaanku dan tidak ingin menegurku. Setelah merasa risih dari aktivitasku, mbaknya langsung pindah ke kursi 11A yang di depannya, 12A, sudah diisi oleh mbak-mbak lain bermasker. Di situ, ia pun menceritakan tentang ketidaknyamanannya diriku saat melihat pria yang merekam kamera ke depan dengan dugaan merekam ke dirinya.
Saya menemui TKA dinas, Mas Andi Supriyadi, di kursi 13C-13D untuk membicarakan hal-hal teknis KRDI. Setelah selesai bicara dan KRDI tiba Sragen, saya mengakhiri percakapan dengan Mas Andi. Di saat itu juga, saya melihat mbak-mbak yang merasa risih denganku tadi menghampiri Mas Andi. Saya sudah yakin dengan orangnya yang melaporkan tindakanku sebelumnya.
Dari pengaduan anggapan mbak-mbak Sragen ini ke TKA pada tanggal 30 Agustus 2025 itu di PLB 575A BIAS, Mas Andi Supriyadi selaku TKA membelaku. Aku diberitahu percakapannya begini oleh Mas Andi begini saat Mas Andi mengingatkanku soal ketidaknyamanan penumpang mbak-mbak yang turun Sragen tadi.
Mbak Sragen: "Mas, tadi yang ngomong sama mas itu temannya atau bukan?"
Mas Andi: "Iya."
Mbak Sragen: "Tolong bilangin, ya! Temennya mas soalnya ngerekam saya. Saya sampai nggak nyaman dan pindah tempat duduk tadi."
Aku yang berdiri di depan pintu K3 3 09 20 merasa dipanggil oleh Mas Andi. Namun, aku tidak berani menghampiri Mas Andi yang berbicara dengan mbak-mbak Sragen tadi. Lalu, percakapan dilanjutkan.
Mas Andi: "Iya, dia emang ngerekam, tapi dia ngerekam engine."
Mbak Sragen: "Ah, masa sih, mas?"
Mas Andi: "Iya..."
Setelah Mas Andi meyakini Mbak Sragen ini, Mbak Sragen ini langsung memindai kode untuk keluar stasiun. Di saat itu, Mas Andi membuat mbaknya yakin dan keluar stasiun dengan nyaman dan aman.
Kejadian yang tidak enak di 573B dan 575A diceritakan kepada Satpam yang dikenal di Stasiun Kadipiro secara sekilas. Kemudian, Satpam itu mengatakan bahwa suasana tidak terkendali karena demo. Meskipun begitu, Satpam tersebut juga mengatakan bahwa emosi penumpang terasa tampak pada saat kondisi demo pembubaran DPR.
Dari kejadian mbak-mbak Sragen di 30 Agustus 2025, aku meyakini kejadian beberapa hal sebagai berikut.
- Kejadian yang sama pasti membuat orang untuk naik kereta berikutnya. Namun, saya masih aman untuk naik BIAS untuk ke depannya karena aura negatif hanya timbul di salah satu individu saja meskipun saya sudah merasakan kejadian pahit.
- Orang yang menghambat hobiku untuk yang kedua kalinya sudah pasti menjadi perhatianku.
- Ketakutan mulai timbul untuk beberapa penumpang ke depannya.
Komentar
Posting Komentar